Bisakah kau mendengarnya?
Aku, tidak bermaksud apa-apa.
Hanya mencari sesuatu yang telah lama melupakanku.
Dulu, kita adalah sepasang kekasih.
Aku adalah pujangga di atas tinta.
Kau adalah pembaca puisi emasku.
Saat canda dan tawa kita ukir lewat indahnya senja.
Lalu aku rangkum dalam sketsa pagi.
Agar keindahannya tetap terpancar, meski matahari enggan lagi bersinar.
Lalu, cinta sejatiku tiba-tiba tidak ada.
Kurobek lembar demi lembar kenangan itu.
Dengan harapan kisah ini lebih cepat berlalu.
Pergi ke tempat dimana nafas kita tak mungkin bertemu.
Tapi, setiap kali aku mencari sebab pulang.
Kenapa sebab itu selalu berhenti di kamu?
Aku, sendiri bergerilya menggandakan perasaanku.
Kucabik-cabik langit malam, terlihat lagi namamu.
Lalu, kupanahkan namamu.
Katakan kau ingin mengusirku jauh-jauh dari benakmu.
Kecuali kau diam-diam menikmatinya.
Mencintaiku secara sembunyi-sembunyi.
Bukankah kau ingin mengejarnya?
Mendapatkan kembali hatinya yang dulu untukmu?
Kejarlah, sampai lelah. Aku doakan yang terbaik untukmu.
Bila kau lelah dan dia tak kunjung menanggapi, atau bahkan ia tak mengaharapkanmu.
Datanglah kepadaku....
Aku akan ceritakan tentang orang yang begitu tambah belajar menerima kenyataan.
Akan aku ceritakan tentang orang yang berani membebaskan padahal khawatirnya terus menyiksa
Akan aku ceritakan tentang orang yang selalu ingin menyemangatimu setiap kali bertemu tapi di dalam hatinya, ada lubang yang terus menganga.
Akan aku ceritakan tentang orang yang selalu merapal namamu dalam sujudnya, walaupun kamu tak pernah merapal namanya.
Dia berani membebaskanmu, tapi selalu khawatir hatimu akan terluka.
Aku telah menempatkan tembok yang tinggi antara kau dan aku
Membuat batasan yang tak mudah ditrmbus oleh siapapun termasuk olehmu.
Membuat apa yang aku rasakan tak terlihat oleh siapapun apalagi olehmu.
Membiarkan saja aku dan perasaanku berdua tanpa tersentuh oleh siapapun apalagi olehmu.
Jadi kau tak perlu merasa harus mengetahui keadaanku, atau apa yang terjadi pada perasaanku.
Kau tak seharusnya tau, apalagi seperti tau padahal tak tau.
Jelas-jelas aku tak mengizinkan siapapun untuk mengetahuinya, jadi kau bersabar saja.
Tembok itu akan runtuh dengan sendirinya ketika ada orang yang berjuang untuk mengetahui keadaanku dan menyelamatkan aku lalu menunjukkan aku pada tempat penuh jendela, mempersilahkan aku bertanya tentang apa saja yang tak pernah aku ketahui tentang bagaimana ia tetap berjuang di balik tembok batas itu.
Hal sama yang kau lakukan 2 tahun silam, dan aku selalu mempercayaimu sebagai orang yang mampu membuatku bahagia. It's you :'
Ada yang pernah berjanji akan memperlihatkan aku bintang dri ketinggian,
Ada yang pernah berjanji membawaku ke puncak gunung paling tinggi,
Ada yang pernah berkata bahwa ia akan mengajakku berdiskusi tentang segala hal,
Ada yang pernah berjanji terus menyemangatiku, ada pula yang berjanji takkan meninggalkanku.
Pada perkataanmu, aku bisa menilaimu. Pada janjimu aku bisa melihat apakah kau orang yang patut aku pertahankan atau aku lepaskan.
Pada perkataanmu, aku pertama kali percaya tentang dunia yang lebih indah bila pergi bersama denganmu.
Lalu, malam ini janjimu terasa menyakitkan. Berdenyut dikepalaku yang memutar ulang perkataanmu, yang terdengar begitu meyakinkan, seperti tak kan ada satu hal yang akan membuatmu tak menunaikannya.
Terdengar seperti yang tak pernah berdusta terhadap janjimu.
Apa aku terlalu bodoh telah percaya padamu atau memang kau yang tak pernah mengucapkan janji itu dengan sungguh-sungguh.
Pada janji yang tak pernah kau tunaikan, kau berhutang itu padaku, hari ini, esok, dan seterusnya.
Teruntuk laki-laki yang selalu kusebut namanya dalam doa :)
Siapa yang ingin kehilangan?
Aku atau kau yang pernah ingin kehilangan.
Membayangkan bagaimana rasanya kehilangan saja aku tak berani, dengan cara apa aku berani menghadapi kehilangan?
Aku pada malamku mencarimu pada akhirnya terbangun dengan kenyataan kau telah hilang, dengan semua sifatmu yang aku rindukan, dengan setiap waktu yang kau berikan padaku agar aku tetap kokoh pada hidup. Setelah sadar kau hilang aku jatuh jauh dari kokoh, tapi tak berani mencari.
Kau dan aku sama-sama kehilangan namun sama-sama tak berani mencari. Lalu masing-masing kita terdiam pada gelapnya ruang, mencoba menghentikan air mata yang akan jatuh, lalu sesak. Adakah diantara kita yang akan mengalah lalu mencari yang satunya?
Pada kenyataannya kau dan aku malah saling menghilangkan, lalu kita menjauhi semua tempat dimana kita pernah saling bertegur sapa. Selamat datang aku ucapkan pada rasa hilang
Pada langkah pertamaku pergi, ada berjuta ragu untuk melangkah, ada banyak senyum yang pudar dari wajah teduhnya. Ada gurat sendu yang terbungkus olrh banyak ego, padamu lalu padaku.
Pada langkah pertamaku pergi, rindu mulai menyerbu bagai ombak pada pantai, kau tak perlu bertanya bagaimana kecewaku, kau yang paling tau seberapa besar ia hingga melangkah rindu.
Pada langkah pertamaku pergi, tak ada kata perpisahan darimu, apakah aku sebegitu tak berarti untukmu hingga kau biarkan aku pergi? Tak ada lambaian tangan, yang ada hanya udara dingin menusuk tulang, yang ada hanya keyakinanku tentang aku yang harus pergi.
Pada langkah pertamaku pergi, aku berjanji. Bahwa suatu saat nanti kau temui aku sebagai seorang yang tangguh, yang tulus mencintai ikhlas melepaskan, kau akan temui aku berada di puncak, kau akan temui aku berdiri tegak pada kakiku sendiri tersenyum padamu. Kau akan temui aku yang melupakan kisah patah hati yang dibuat olehmu. Aku berjanji.
Pada langkah pertamaku pergi, semoga kau tak memanggilku kembali, karena aku tak akan.
