Aku adalah senja, yang akan selalu ada diantara kebimbanganmu, antara malam dan siangmu.
Aku ini senja yang slalu kau tunggu namun tak pernah kau raih, kau hanya mengagumi tanpa kau sapa.
Aku ini senjamu, warna yang menyesakkan dadamu.

Aku adalah senjamu, yang mengantarmu pulang dengan rasa lelah, yang memberimu selamat karena kau telah melalui hari ini dengan baik.
Aku ini senjamu, yang kadang kau lupakan karena kau sibuk pada urusanmu pada siang dan malam.
Aku ini senjamu, yang bersedia menjadi jedamu disaat kau butuh waktu untuk bernafas lega.

Aku adalah senja, yang tak pernah menunggumu menyapa, karena malam terburu-buru muncul, dan kau terlalu lama memutuskan.
Aku adalah senjamu, yang ketika ia hilang maka kau menyesal telah melewatkannya.

Mungkin aku bisa memeluk ragamu, membiarkan lelah lepas dengan memandang senyummu. Tapi sepertinya merengkuh hatimu terasa terlampau jauh. Kau bisa berujar cinta, tapi sorot matamu terasa jauh menerawang entah kemana.

Aku bisa melihatmu bahagia, sekilas. Tapi lebih dalam dari itu, aku tak pernah merasa bisa memeluk hatimu. Sebagai bayang-bayang, aku hanya bisa merengkuh ragamu, tapi tidak dengan hatimu. Aku merasakannya, dan aku tak ingin kau bergurai terlalu lama.

Mungkin sudah saatnya bayang-bayang ini tahu diri.

Setelah pertemuan itu, saya gak tau gimana cara mendefinisikan perasaan ini..

Senang? Saya senang, sangat senang saat pertama kali setelah 3 bulan tak ada kabar apapun darinya.
Sedih? Saya sedih, sedih ketika pertemuan itu hanya sekejap mata, layaknya mimpi" yang selama ini saya alami.
Gelisah? Ketika saya kembali harus terbangun dari semua mimpi2 itu..

Entahlahh, saya selalu tidak dapat menolak apapun darinya..
Saya selalu percaya dengan apapun yang ia katakan..
Saya selalu 'manut' dengan apapun yang ia katakan..
Saya selalu 'yakin' dengan sorotan matanya, yang sesungguhnya menampakkan segala perasaannya.
Saya selalu tau segala gerak-geriknya, tingkah lakunya, mana yang pura-pura dan mana yang tulus.
Saya tau? Atau saya selalu 'sok tau'?

Hati kecil tidak mungkin berbohong kan? Iyaa apa yang saya lihat, apa yang saya rasakan padanya, adalah ucapan pertama yang keluar dari hati saya.

Naluri 'keibuan' saya keluar,
saya tak perlu penjelasan panjang lebar, meskipun sedikitnya saya membutuhkan itu untuk menguatkan dugaan saya.
Saya tak perlu kata2 yang keluar, hanya memperhatikan sorot matanya, saya tau ada yg disembunyikan atau tidak.

Ketika dihadapannya saya tak mampu berkata2, tak ada satupun kata2 yang keluar dari mulut saya, padahal banyak sekali pertanyaan yang ingin saya lontarkan.
Saya hanya berharap dia mengerti tanpa saya harus berkata, tapi saya yakin itu mustahil..
Dia tak ingin capek2 menebak segala sesuatu yang tak jelas.

Duhhh, tulisan saya berantakan sekali, kacau kayak pikiran saya :(

Saya senang memegang rambutnya, mengelus ubun2nya, saya senang melihatnya tertidur, saya senang melihatnya :)

Semoga :")

Kau terlalu mencintainya,.
Semakin kau mencintainya, semakin kecil kau mendapatkannya..

Kau memiliki janji kehidupan yang lebih baik di luar sana..
Lupakan janji masa depan yang dia berikan..
Mustahil bagi kalian untuk bersatu.
bahkan takdir pun terlalu kejam untuk kalian.

Berdoalahh...
Berdoalah untuknya,, untukmu, dan untuk kalian..
Hanya itu yang menguatkanmu saat ini dan selamanya :)

Bagiku waktu selalu pagi. Diantara potongan dua puluh empat jam sehari, bagiku pagi adalah waktu yang paling indah.
Ketika janji-janji baru muncul seiring embun menggelayut diujung dedaunan. Ketika harapan harapan baru merekah bersama kabut yang mengambang di persawahan hingga nun jauh di kaki pegunungan.
Pagi, berarti satu hari yang melelahkan telah terlampaui lagi.
Pagi, berarti satu malam dengan mimpi-mimpi yang menyesakkan terlewati lagi, malam-malam panjang, gerakan tubuh resah, kerinduan, dan helaan nafas tertahan.

"Karena apapun yang terjadi memang karena kehendakNya. Bersyukurlah!!"

"Berdamailah atas apa yang tidak bisa kau ubah"